Aku mengucapkan terima kasih kepada Kemdikbud melalui BPKLN, Bapak Abe Susanto selaku Koordinator Program Beasiswa Unggulan. STP Sahid, Bapak Kusmayadi, Ibu Nenny Wahyuni, Bapak Asep Parantika, Bapak Teguh Tri Utomo yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti Program Double Degree dan membantu dari persiapan hingga saat ini. Kepada CCF dan Campus France yang telah memberikan ilmu, pembekalan dan pengetahuan tentang Perancis.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Ramadhan di Gunung Alpen

Bonjour,

Saat ini aku ingin menceritakan tentang pengalamanku berpuasa di Prancis (Pegunungan Alpen), lebih tepatnya di Hotel Mercure Les Deux Alpes, tempat magangku. Ya, hanya sekedar info, jangka waktu berpuasa disini dalam sehari bisa mencapai 17 jam, karena saat Ramadhan, di Prancis sedang musim panas, dengan kata lain matahari sedang "senang-senang"nya menampakkan diri
.
Ramadhan di Prancis dimulai pada tanggal 20 Juli 2012 - 19 Agustus 2012. Banyak yang bertanya-tanya apa sih perbedaannya berpuasa di Prancis dengan di Indonesia? Well, sebenernya sih gak ada yang berbeda, masih menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu, yang berbeda menurut aku hanya suasanannya. Kenapa bisa begitu? Ya jelas aja, karena yang melaksanakan ramadhan hanya 5 orang, tidak ada ta'jil menjelang berbuka, program acara televisi tidak ada yang menyinggung tentang ramadhan, sahur dan berbuka bersama pun rasanya juga sulit ditemukan. Akan tetapi yang aku kagumi, "mereka yang tidak berpuasa sangat menghormati kami yang berpuasa".

Seperti yang sudah aku tulis di artikel sebelumnya, bahwa aku magang sebagai "tukang masak" yang biasanya setiap hari harus mencicipi makanan untuk mengetahui seperti apa cita rasa dari masakan tersebut hingga membuat yang mencicipi enggan untuk menyisakannya di piring *asiiiiik #lebay. Oke serius. Dengan kata lain, aku harus memperhatikan rasa agar tidak mengecewakan tamu. Walaupun demikian, tidak ada alasan untukku agar tidak berpuasa, karena semua rekan kerja dan Ex. Chef nya pun memahami, jadi ketika aku sedang mengolah makanan, aku selalu meminta pendapat mereka akan rasanya. Biasanya sih mereka bilang tidak ada yang kurang, hanya kelebihan garam o.O

Tidak hanya mereka yang yang menghormati kami yang berpuasa, sebaliknya aku pun juga menghormati mereka. Sebagai contoh ketika makan siang, aku kerap kali ikut satu meja dengan mereka saat menyantap makanan, bukan untuk makan bersama, tetapi untuk berbincang dan bercanda gurau agar terjadi kerukunan sesama dan ketika ada sajian makanan yang aku suka, biasanya aku simpan di kulkas dan dipanaskan kembali ketika berbuka #modusutama.



Ketika berbuka puasa, biasanya aku berbuka dengan Ifan, teman seperjuangan dan terkadang dengan Lydie, walaupun dia tidak melaksanakan ramadhan, dia selalu setia menemaniku berbuka. Dikala berbuka, biasanya aku hanya memanaskan makanan yang telah aku siapkan sebelumnya, terkadang aku memasaknya sendiri dikamar dengan peralatan seadanya, atau jika ada waktu aku memasaknya di dapur hotel, karena dikamarku tidak disediakan dapur.


memasak menggunakan rice cooker
memasak di dapur hotel


sambal, wajib!
Sebelum berbuka, aku terkadang melakukan ritual yang sudah tidak asing lagi, yaitu "ngabuburit". Kegiatan yang aku lakukan saat ngabuburit seperti menonton pertandingan hockey, menjelajahi gunung, bermain di taman, merendam kaki di sungai, dan banyak lagi.



aku bersama Lydie







Dihari libur, kami merayakannya untuk berbuka puasa diluar sehabis ngabuburit. Jangan mengharapkan berbuka dengan kolak dan es kelapa, kami biasanya berbuka dengan kebab atau pizza, karena hanya itu makanan yang halal dan sesuai dengan kantong ;)




Jadi, berpuasa di negeri orang tanpa dikelilingi orang-orang terkasih tidak membuatku sedih ataupun menyurutkan semangatku, karena aku dapat melaksanakan ramadhan bersama teman-teman yang berasal dari berbagai negara dan berbeda budaya sehingga aku dapat belajar mengenai menghormati, menghargai serta selalu bersyukur atas apa yang aku dapatkan. Terima kasih.